Artikel untuk Orang Tua
BELAJAR MATEMATIKA BERSAMA ANAK
Matematika itu ada dimana-mana, tidak hanya di pelajaran sekolah. Kita mungkin tak mengenalinya, karena tak tampak seperti yang diajarkan di sekolah. Anda menggunakan matematika saat menyetel jam beker, belanja bahan makanan, membuat susu buat anak, mencatat skor, atau saat membungkus kado.
Mungkin Anda bertanya pada diri sendiri, "Kembaliannya sudah pas belum ya?" atau "Bensin di mobil cukup tidak ya untuk sampai ke rumah?" Dan masih banyak lagi pertanyaan matematis yang secara tak sadar kita buat.
Apa Anggapan Anda tentang Matematika?
Anggapan dan pikiran Anda tentang matematika akan mempengaruhi pikiran anak Anda tentang matematika. Apakah Anda menyukai pelajaran matematika di sekolah? Apakah matematika berguna dalam kehidupan sehari-hari? Apakah Anda percaya bahwa sebagian besar pekerjaan membutuhkan matematika?
Jika Anda menjawab 'YA!' pada pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda mungkin akan mendorong anak Anda untuk mampu berfikiri secara matematis.
Anda Bisa!
Jika Anda sebagai orang tua tidak pede dengan matematika, pikirkan hal-hal berikut ini.
Matematika adalah ketrampilan yang sangat penting, karena sangat dibutuhkan dalam dunia teknologi sekarang ini. Anda harus mendorong anak untuk menganggap dirinya ahli matematika yang dapat menalar dan memecahkan masalah.
Orang-orang seni juga membutuhkan matematika. Setiap bidang membutuhkan pemahaman mendalam mengenai sebagian ilmu matematika tertentu. Mulai dari ukuran kanvas, ketukan musik, jumlah penonton, sampai karya seni berbasis komputer.
Kalkulator dan komputer butuh kemampuan matematika kita. Kalkulator hanya menghitung dengan benar, jika angka yang dimasukkan benar. Anda harus tahu bahwa jawaban yang diberikan masuk akal atau tidak.
Dunia kerja pun berubah dengan cepat. Orang tidak lagi hanya dibutuhkan kemampuan berhitungnya saja. Tetapi ia harus dapat memperkirakan, berkomunikasi secara matematis, dan menalar dalam konteks matematis. Orang harus mampu berpikir cepat dan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah.
Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anda!
Agar pede menghadapi matematika, Anda harus menyadari pentingnya matematika dan siap untuk belajar:
Menggunakan matematika dengan mudah;
Memecahkan masalah dan bekerja sama untuk memecahkan masalah;
Menunjukkan kemampuan penalaran yang kuat;
Mencari lebih dari satu cara untuk memecahkan masalah ;
Menerapkan ide-ide matematis dalam situasi lain ; dan
Memanfaatkan teknologi.
Memecahkan masalah berarti mempertanyakan, menyelidiki, dan menggali solusi atas masalah. Ini juga menggunakan berbagai strategi untuk mendapatkan jawaban, mempertimbangkan berbagai jawaban sebagai kemungkinan, dan menerapkan matematika dalam situasi sehari-hari.
Berkomunikasi secara matematis berarti menggunakan kata atau simbol untuk menjelaskan keadaan sebenarnya, mengungkapkan cara Anda mendapatkan jawaban, menyimak cara berpikir orang lain, dan mungkin mengubahnya, menggunakan gambar dan skema untuk menjelaskan sesuatu.
Menunjukkan kemampuan penalaran adalah untuk menilai dan menjelaskan cara berpikir orang lain tentang matematika, berpikir logis, mampu menjelaskan persamaan dan perbedaan tentang suatu hal, menentukan pilihan berdasarkan perbedaan tersebut, memikirkan hubungan antara hal-hal tertentu dan membicarakannya.
Yang Penting untuk Diketahui
Sekarang ini, belajar matematika lebih ditekankan pada pemahaman pada konsep dan kemampuan menerapkan ketrampilan berpikir untuk mendapatkan jawaban. Tidak lagi pada kemampuan untuk menyelesaikan soal-soal matematika dengan cepat dan akurat.
Jawaban Salah dapat Membantu!
Walaupun jawaban akurat itu tetap penting, jawaban salah dapat membantu Anda dan anak Anda mengetahui apa yang belum dipahami.
Selalu bersabarlah atas kesalahan. Semua anak ingin sukses. mereka ingin berbangga dan membuat orang tua dan gurunya bangga juga. Jadi, jawaban yang salah menyuruh Anda untuk melihat lebih jauh, bertanya, dan mencari arti kesalahan itu dalam pemahaman sang anak.
Terkadang, jawaban anak salah karena anak mengartikan lain dari soal matematika yang diberikan. Contohnya, bila anak membaca soal 4 + ___ = 9, terkadang jawabannya adalah 13. Ini terjadi karena ia berpikir soalnya adalah "berapa 4 + 9?", bukannya " 4 ditambah berapa agar menjadi 9?"
Mintalah anak untuk menjelaskan cara menyelesaikan soal yang diberikan. Jawabannya mungkin membuat Anda tahu bahwa anak Anda perlu bantuan mengenai cara atau konsep yang dipakai. Bantulah anak agar berani mengambil risiko. Tunjukkan manfaat memeriksa jawaban salah. Yakinkan bahwa jawaban yang benar akan muncul bila sudah memahami dengan benar pula.
Banyak Jalan Menuju ke Roma
Dari dulu kita merasa bahwa soal matematika hanya memiliki satu jawaban. Tetapi untuk mendapatkan jawaban tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ketika mengerjakan soal matematika bersama anak, tanyakan, " Bagaimana cara mendapatkan jawabannya?" Cara anak Anda mungkin berbeda dengan cara Anda. Jika jawabannya benar dan cara mengerjakannya manjur, maka itu adalah alternatif cara yang bagus. Dengan mendorong anak mengungkapkan cara penyelesaiannay, Anda membantu anak Anda memiliki cara berpikir yang lebih kuat.
Mencongak itu Penting
Anda memperhatikan bahwa sedikit sekali orang membawa pensil dan kertas untuk menghitung-hitung di toko makanan atau di supermarket. Kebanyakan mereka berusaha menghitung di luar kepala. Kalkulator dan komputer memerlukan manusia untuk memasukkan informasi yang benar dan yang memastikan bahwa jawaban yang diberikan memang dapat diterima. Ini sebabnya, mencongak atau berhitung di luar kepala menjadi penting.
Untuk anak Anda, Anda dapat mencoba tips-tips berikut:
1. Bantulah anak belajar mencongak dengan sedikit angka, sampai ia dapat mengembangkan respon yang cepat dan akurat. Buatla pertanyaan-pertanyaan seperti "Jika Ibu punya 4 es krim, dan Ibu tambah 2 es krim lagi, berapa jumlah es krim semuanya?" dan sejenisnya.
2. Doronglah anak untuk memperkirakan jawabannya. Ketika mengira-ngira, gunakan angka untuk mempermudah jawaban yang cocok. Contoh, ketika menghitung jumlah 18 ditambah 29, gunakan cara sederhana untuk mendapatkan jawaban yang mendekati, seperti 20 + 30.
3. Biarkan anak menggunakan cara yang bisa mereka lakukan.
4. Lontarkan pertanyaan, "Apakah jawabannya benar?" Apakah benar jika 17 ditambah 35 menjadi 373? Mengapa? Mengapa bukan?
Contoh Permainan Matematika di Rumah
Ada banyak permainan yang dapat dimainkan bersama anak di rumah. Permainan ini secara tidak langsung mengenalkan dan mengembangkan kemampuan matematika. Berikut beberapa contoh.
Mencari Harta Karun
Setiap anggota keluarga memiliki harta karun sendiri. Ada banyak aspek matematika yang dapat dilakukan bersama.
Bahan yang Dibutuhkan:
• Kancing
• Sekrup
• Tutup botol
• kerikil
• anak kunci
• kerang
• atau benda apapun yang dapat dihitung.
Cara Bermain:
1. Siapkan wadah untuk menyimpan harta karun
2. Kumpulkan dan kelompokkan harta karun. Contohnya, apakah Anda mempunyai kancing dan kunci yang berukuran sama? Apa persamaannya? Apa perbedaannya?
3. Gunakan harta karun ini untuk bermain penambahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Contoh: Jika kita membagi 15 kancing untuk 3 orang, berapa kancing masing-masing yang didapatkan? Adakah sisanya?
4. Susunlah harta karun itu berdasarkan ciri tertentu dan jajarkan. Bandingkan perbedaan-perbedaan yang tampak. Misal: Ada 3 sekrup pendek, 7 sekrup panjang, dan 11 sekrup sedang. Kombinasi ini bisa digunakan untuk berbicara tentang pecahan, misal : 7/21 sekrup adalah sekrup panjang.
Wadah penyimpanan harta karun dapat melatih anak Anda dalam pemecahan masalah spasial. Harta karun ini dapat membantu Anda menjelaskan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Ini bisa dilakukan karena barang-barang tersebut dapat dikelompokkan atau dibagi-bagi sehingga dapat dihitung.
Menebak Koin
Anak-anak suka dengan koin, tetapi terkadang tidak dapat mengetahui nilainya.
Yang dibutuhkan:
• koin 100 rupiah
• koin 200 rupiah
• koin 500 rupiah
• koin 50 rupiah
Cara Bermain:
1. Perhatikan koinnya, katakan warna, gambar dan nilainya pada anak.
2. Kemudian taruh koin 100 rupiah dan 500 rupiah di lantai atau di meja.
3. Katakan pada anak bahwa Anda sedang membayangkan salah satu koin tersebut.
4. Beri petunjuk pada anak tentang koin yang sedang Anda pikirkan. Misal, "Koin yang Ibu bayangkan bergambar burung kakak tua."
5. Biarkan anak memikirkan dan menebak dengan melihat pada koin di lantai/meja.
6. Bila anak tidak dapat menebak, berikan petunjuk yang lain.
7. Bila berhasil, taruh koin yang lain di dekat koin-koin tersebut.
8. Mintalah anak memberi petunjuk tebakan kepada Anda.
Permainan tebak-tebakan ini membantu anak untuk mengenali koin dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan berpikir yang lebih tinggi.
Sumber: www.kidsource.com
________________________________________
Akal Interaktif - The Multimedia Company
Jl. Cilaki 63, Bandung 40114
Tel. 022-7212216 Fax. 022-7214647
www.akalinteraktif.com
akal@akalinteraktif.com
Tampilkan postingan dengan label Untuk OrTu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk OrTu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Januari 2010
Artikel Untuk Orang Tua (B. Inggris)
Artikel untuk Orang Tua
BELAJAR BAHASA INGGRIS BERSAMA ANAK
Kapan anak mulai bisa belajar bahasa Inggris? Tidakkah terlalu dini mengenalkan bahasa lain kepada anak? Di mana-mana sekarang marak bermunculan kursus-kursus bahasa Inggris. Sekolah pun tak ketinggalan memberikan pelajaran bahasa Inggris. Departemen Pendidikan Nasional pun sudah menetapkan dan membuat kurikulum pengajaran bahasa Inggris untuk anak SD.
Menurut Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, usia 6 - 12 tahun merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus.
Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. Cukup dengan pemajanan diri (self-exposure) pada bahasa tertentu, misalnya ia tinggal di suatu lingkungan yang berbahasa lain dari bahasa ibunya, dengan mudah anak akan dapat menguasai bahasa itu. Masa emas itu sudah tidak dimiliki oleh orang dewasa
Anak punya kemampuan menyerap bahasa secara otomatis, asalkan ia memperoleh kesempatan berkali-kali mendengarkan bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi. Di sini letak kekuatan anak. Mereka justru harus dilimpahi masukan bahasa (bukan tata bahasa) yang mudah dipahami (comprehensible input).
Pasalnya, berdasarkan tahap perkembangan kognitif Piaget, anak usia 7 - 11 tahun baru berada pada tahap "konkret-operasional". Anak baru mampu menghadapi hal-hal konkret, belum sampai pada hal-hal abstrak. Kaidah tata bahasa adalah hal yang abstrak mengenai bahasa, dan masih sulit dicerna otak anak.
Nah, kalau disodori pola belajar untuk orang dewasa, menurut Bambang, anak seakan-akan dipaksa melewati sebelum waktunya. Anak menjadi terbebani. Makanya, "Untuk mengajarkan bahasa Inggris sejak usia dini, jangan menggunakan cara untuk orang dewasa," sarannya. Sebaiknya anak diajarkan bahasa secara alamiah, tidak melalui pendidikan formal dengan aturan-aturan tata bahasa.
Perbedaan Orang Dewasa dengan Anak
Penelitian yang ekstensif telah menyimpulkan, ada perbedaan antara anak dan orang dewasa dalam belajar. Perbedaan tersebut adalah: rentang perhatian, tingkat kekonkritan, bermain/serius, ketajaman pendengaran, dan poin afeksi.
1. Rentang Perhatian. Aktivitas belajar anak akan efektif dalam rentang waktu yang pendek. Aktivitas itu juga harus melibatkan berbagai indera (pendengaran, penglihatan, gerak).
2. Konkrit. Anak baru mampu mencerap hal-hal yang nyata, seperti benda, kata kerja langsung, dan kata sifat yang jelas. Anak belum bisa menangkap ide abstrak atau struktur kalimat.
3. Permainan. Bagi anak-anak, permainan adalah cara untuk bereksplorasi. Permainan tidak hanya sekedar bersenang-senang. Mereka bertualang dalam menciptakan realitas baru dan pengalaman baru.
4. Ketajaman Pendengaran. Anak-anak sangat pandai dalam menirukan suara baru. Bagi mereka, bahasa asing yang "asing" bagi orang dewasa tidaklah terlalu "asing" bagi anak-anak.
5. Faktor Afeksi. Anak-anak memiliki dunia emosi yang berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak cenderung berpikir untuk tujuan jangka pendek. Mereka juga cenderung tidak menutupi perasaannya. Kalau bosan, mereka akan menunjukkannya dengan jelas.
Bagaimana Orang Tua Membantu Anak Belajar Bahasa Inggris?
Mengutip www.britishcouncil.org, berikut beberapa saran yang dapat dilaksanakan orang tua.
• Tunjukkan ketertarikan pada pelajaran bahasa Inggris anak di sekolah. Tanyakan sejauh mana pelajarannya, dan bantulah bila perlu.
• Berbicaralah dengan guru di sekolah untuk mengetahui:
o Cara pengajaran bahasa Inggris di sekolah.
o Kemajuan anak kita. Apa kekuatan dan kelemahannya?
o Hal-hal yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu anak. Guru mungkin memiliki permainan dan aktivitas yang dapat dilakukan di rumah.
• Luangkan waktu bersama anak untuk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Buatlah aktivitas itu menyenangkan, agar anak menikmatinya. Jadikan sebagai aktivitas rutin keluarga.
• Buatlah English Corner di rumah. Isi dengan buku, kamus, kaset, dan papan tulis. Di papan tulis, tulis atau cantumkan foto dan penjelasan dalam bahasa Inggris, lirik lagu, kata-kata baru dan sejenisnya yang diganti setiap minggu.
• Bacalah buku dalam bahasa Inggris atau nyanyikan lagu dalam bahasa Inggris secara rutin bersama anak. Beri kesempatan anak untuk menonton atau mendengar sesuatu yang menghibur dalam bahasa Inggris.
• Gunakan Internet untuk mencari situs-situs yang cocok. Banyak situs yang menyediakan permainan atau aktivitas bahasa Inggris yang bisa dicetak.
• Buatlah English Time di rumah, satu jam dalam seminggu misalnya.
• Ketika pergi ke luar rumah, Catat kata-kata dalam bahasa Inggris di jalan, toko, atau di supemarket. Carilah artinya dalam kamus jika belum mengetahui artinya.
• Gunakan benda-benda di sekitar rumah. Berilah label dalam bahasa Inggris.
• Pertimbangkan untuk mencari sahabat pena bagi anak dari luar negeri. Anda dapat membantu membacakan atau menuliskan surat atau email dalam bahasa Inggris.
Permainan
Berikut ada beberapa permainan yang dapat dimainkan bersama anak Anda:
• Bingo (dengan angka, huruf, warna, binatang dan sebagainya)
• Memory Game (letakkan 10 benda sehari-hari dalam sebuah wadah, sebutkan dalam bahasa Inggris, tutup wadah tersebut, mintalah anak untuk mengingat dan menyebutkan kembali dalam bahasa Inggris)
• Alphabet game (sebutkan satu huruf, mintalah anak untuk menyebutkan nama binatang, makanan, atau apapun dalam bahasa Inggris yang dimulai dengan huruf tersebut.)
• I-spy (katakan Anda sedang membayangkan sesuatu yang dimulai dengan sebuah huruf tertentu, mintalah anak menduga dan menebak apa yang Anda bayangkan tersebut dalam bahasa Inggris) )
• Twenty questions (Pikirkan sebuah benda atau binatang, mintalah anak bertanya untuk mengetahui apa yang sedang Anda pikirkan)
• Definition game (Berikan sebuah deskripsi, misalnya seekor binatang, dan mintalah anak untuk menebak berdasarkan deskripsi tersebut)
• Treasure hunt (Anak Anda harus mencari benda-benda yang Anda tulis dalam bahsa Inggris, atau mengikuti petunjuk yang Anda tulis dalam Bahasa Inggris)
• Matching game (Tempelkan gambar-gambar dalam kartu dan buatlah kartu yang berisi kata-kata yang sesuai dengan gambar tersebut dalam bahasa Inggris. Kemudian aturlah kartu-kartu tersebut secara acak dalam posisi gambar dan kata yang menempel di meja. Mulailah permainan mencocokkan gambar dan kata).
• Pictionary (Mainkan permainan ini dengan beberapa anak. Pelan-pelan, gambarlah sebuah benda (benda mati, binatang, dan sebagainya) dalam kertas yang lebar. Anak yang mampu menebak gambar tersebut dalam bahasa Inggris mendapatkan nilai dan berhak menggambar benda berikutnya. ).
Sumber:
• KAPAN ANAK BELAJAR BAHASA INGGRIS?, www.indomedia.com/Intisari/1998/ september
• Tips for English Education in the Home, www.tnewfields.info/ Articles/child.htm
• HELP YOUR CHILD LEARN ENGLISH, www.britishcouncil.org/kids-parents-help.htm
________________________________________
Akal Interaktif - The Multimedia Company
Jl. Cilaki 63, Bandung 40114
Tel. 022-7212216 Fax. 022-7214647
www.akalinteraktif.com
akal@akalinteraktif.com
BELAJAR BAHASA INGGRIS BERSAMA ANAK
Kapan anak mulai bisa belajar bahasa Inggris? Tidakkah terlalu dini mengenalkan bahasa lain kepada anak? Di mana-mana sekarang marak bermunculan kursus-kursus bahasa Inggris. Sekolah pun tak ketinggalan memberikan pelajaran bahasa Inggris. Departemen Pendidikan Nasional pun sudah menetapkan dan membuat kurikulum pengajaran bahasa Inggris untuk anak SD.
Menurut Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, usia 6 - 12 tahun merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus.
Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis. Cukup dengan pemajanan diri (self-exposure) pada bahasa tertentu, misalnya ia tinggal di suatu lingkungan yang berbahasa lain dari bahasa ibunya, dengan mudah anak akan dapat menguasai bahasa itu. Masa emas itu sudah tidak dimiliki oleh orang dewasa
Anak punya kemampuan menyerap bahasa secara otomatis, asalkan ia memperoleh kesempatan berkali-kali mendengarkan bahasa seperti yang digunakan dalam komunikasi. Di sini letak kekuatan anak. Mereka justru harus dilimpahi masukan bahasa (bukan tata bahasa) yang mudah dipahami (comprehensible input).
Pasalnya, berdasarkan tahap perkembangan kognitif Piaget, anak usia 7 - 11 tahun baru berada pada tahap "konkret-operasional". Anak baru mampu menghadapi hal-hal konkret, belum sampai pada hal-hal abstrak. Kaidah tata bahasa adalah hal yang abstrak mengenai bahasa, dan masih sulit dicerna otak anak.
Nah, kalau disodori pola belajar untuk orang dewasa, menurut Bambang, anak seakan-akan dipaksa melewati sebelum waktunya. Anak menjadi terbebani. Makanya, "Untuk mengajarkan bahasa Inggris sejak usia dini, jangan menggunakan cara untuk orang dewasa," sarannya. Sebaiknya anak diajarkan bahasa secara alamiah, tidak melalui pendidikan formal dengan aturan-aturan tata bahasa.
Perbedaan Orang Dewasa dengan Anak
Penelitian yang ekstensif telah menyimpulkan, ada perbedaan antara anak dan orang dewasa dalam belajar. Perbedaan tersebut adalah: rentang perhatian, tingkat kekonkritan, bermain/serius, ketajaman pendengaran, dan poin afeksi.
1. Rentang Perhatian. Aktivitas belajar anak akan efektif dalam rentang waktu yang pendek. Aktivitas itu juga harus melibatkan berbagai indera (pendengaran, penglihatan, gerak).
2. Konkrit. Anak baru mampu mencerap hal-hal yang nyata, seperti benda, kata kerja langsung, dan kata sifat yang jelas. Anak belum bisa menangkap ide abstrak atau struktur kalimat.
3. Permainan. Bagi anak-anak, permainan adalah cara untuk bereksplorasi. Permainan tidak hanya sekedar bersenang-senang. Mereka bertualang dalam menciptakan realitas baru dan pengalaman baru.
4. Ketajaman Pendengaran. Anak-anak sangat pandai dalam menirukan suara baru. Bagi mereka, bahasa asing yang "asing" bagi orang dewasa tidaklah terlalu "asing" bagi anak-anak.
5. Faktor Afeksi. Anak-anak memiliki dunia emosi yang berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak cenderung berpikir untuk tujuan jangka pendek. Mereka juga cenderung tidak menutupi perasaannya. Kalau bosan, mereka akan menunjukkannya dengan jelas.
Bagaimana Orang Tua Membantu Anak Belajar Bahasa Inggris?
Mengutip www.britishcouncil.org, berikut beberapa saran yang dapat dilaksanakan orang tua.
• Tunjukkan ketertarikan pada pelajaran bahasa Inggris anak di sekolah. Tanyakan sejauh mana pelajarannya, dan bantulah bila perlu.
• Berbicaralah dengan guru di sekolah untuk mengetahui:
o Cara pengajaran bahasa Inggris di sekolah.
o Kemajuan anak kita. Apa kekuatan dan kelemahannya?
o Hal-hal yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu anak. Guru mungkin memiliki permainan dan aktivitas yang dapat dilakukan di rumah.
• Luangkan waktu bersama anak untuk melakukan aktivitas yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Buatlah aktivitas itu menyenangkan, agar anak menikmatinya. Jadikan sebagai aktivitas rutin keluarga.
• Buatlah English Corner di rumah. Isi dengan buku, kamus, kaset, dan papan tulis. Di papan tulis, tulis atau cantumkan foto dan penjelasan dalam bahasa Inggris, lirik lagu, kata-kata baru dan sejenisnya yang diganti setiap minggu.
• Bacalah buku dalam bahasa Inggris atau nyanyikan lagu dalam bahasa Inggris secara rutin bersama anak. Beri kesempatan anak untuk menonton atau mendengar sesuatu yang menghibur dalam bahasa Inggris.
• Gunakan Internet untuk mencari situs-situs yang cocok. Banyak situs yang menyediakan permainan atau aktivitas bahasa Inggris yang bisa dicetak.
• Buatlah English Time di rumah, satu jam dalam seminggu misalnya.
• Ketika pergi ke luar rumah, Catat kata-kata dalam bahasa Inggris di jalan, toko, atau di supemarket. Carilah artinya dalam kamus jika belum mengetahui artinya.
• Gunakan benda-benda di sekitar rumah. Berilah label dalam bahasa Inggris.
• Pertimbangkan untuk mencari sahabat pena bagi anak dari luar negeri. Anda dapat membantu membacakan atau menuliskan surat atau email dalam bahasa Inggris.
Permainan
Berikut ada beberapa permainan yang dapat dimainkan bersama anak Anda:
• Bingo (dengan angka, huruf, warna, binatang dan sebagainya)
• Memory Game (letakkan 10 benda sehari-hari dalam sebuah wadah, sebutkan dalam bahasa Inggris, tutup wadah tersebut, mintalah anak untuk mengingat dan menyebutkan kembali dalam bahasa Inggris)
• Alphabet game (sebutkan satu huruf, mintalah anak untuk menyebutkan nama binatang, makanan, atau apapun dalam bahasa Inggris yang dimulai dengan huruf tersebut.)
• I-spy (katakan Anda sedang membayangkan sesuatu yang dimulai dengan sebuah huruf tertentu, mintalah anak menduga dan menebak apa yang Anda bayangkan tersebut dalam bahasa Inggris) )
• Twenty questions (Pikirkan sebuah benda atau binatang, mintalah anak bertanya untuk mengetahui apa yang sedang Anda pikirkan)
• Definition game (Berikan sebuah deskripsi, misalnya seekor binatang, dan mintalah anak untuk menebak berdasarkan deskripsi tersebut)
• Treasure hunt (Anak Anda harus mencari benda-benda yang Anda tulis dalam bahsa Inggris, atau mengikuti petunjuk yang Anda tulis dalam Bahasa Inggris)
• Matching game (Tempelkan gambar-gambar dalam kartu dan buatlah kartu yang berisi kata-kata yang sesuai dengan gambar tersebut dalam bahasa Inggris. Kemudian aturlah kartu-kartu tersebut secara acak dalam posisi gambar dan kata yang menempel di meja. Mulailah permainan mencocokkan gambar dan kata).
• Pictionary (Mainkan permainan ini dengan beberapa anak. Pelan-pelan, gambarlah sebuah benda (benda mati, binatang, dan sebagainya) dalam kertas yang lebar. Anak yang mampu menebak gambar tersebut dalam bahasa Inggris mendapatkan nilai dan berhak menggambar benda berikutnya. ).
Sumber:
• KAPAN ANAK BELAJAR BAHASA INGGRIS?, www.indomedia.com/Intisari/1998/ september
• Tips for English Education in the Home, www.tnewfields.info/ Articles/child.htm
• HELP YOUR CHILD LEARN ENGLISH, www.britishcouncil.org/kids-parents-help.htm
________________________________________
Akal Interaktif - The Multimedia Company
Jl. Cilaki 63, Bandung 40114
Tel. 022-7212216 Fax. 022-7214647
www.akalinteraktif.com
akal@akalinteraktif.com
Langganan:
Postingan (Atom)